Terbuai dalam kenikmatan semu sesaat


Hidup ini bagaikan seni melukis tanpa penghapus, semua yang telah terjadi biarlah menjadi dan tidak bisa terulang kembali. Anda dapat merubah gambar menjadi bentuk yang lebih indah meski telah ternoda coretan-coretan hitam yang tidak jelas bentuknya. Hidup juga diibaratkan oleh orang bijak yang mempunyai jangkauan pola pikir seluas dunia seperti dua sisi mata uang, terdapat dua hal yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya. Di satu sisi terdapat kebaikan dan di sisi yang lainnya terdapat keburukan

Kehidupan di dunia ini merupakan kehidupan yang fana dan suatu saat akan binasa, salah melangkah akan membuat anda terjerumus ke lubang hitam dan tidak dapat lagi keluar dari dalamnya, pasti akan menimbulkan kesengsaraan yang tiada tara. Segala gemerlap, hingar bingar yang ada di dunia ini tak lebihnya ilusi optik dan buai belaka, hingga rela menyerahkan hidupnya tulus dalam takdir dunia. Orang akan terbius jikalau lemah imannya. Pandai-pandailah menempatkan diri dan jangan sampai salah jalan dan akhirnya terlena dengan buaian semu yang hanya sesaat. Menempa diri menjadi pribadi yang dekat dengan sang maha pencipta merupakan jalan terbaik agar bisa mendapatkan jati diri yang hakiki ditengah krisis spiritual.

Di kota-kota besar seperti seperti halnya Jakarta, yang mempunyai gemerlap kehidupan dunia malam tiada henti, diskotik berjamuran dimana-mana, kupu-kupu malam bertebaran di remang-remang serta kemaksiatan merajalela. Seakan-akan norma agama tidak lagi berlaku, tidak ada manusia super yang sanggup menghentikan dunia kelam seperti ini. Dunia ini merupakan jalan pintas bagi mereka yang tidak punya pilihan untuk mendapatkan uang secara instan, mereka tidak takut dengan siksa yang amat pedih yang dijanjikan sang maha pencipta di akhirat kelak, karena mereka rela mengkhianati rasa, demi keinginan semu agar bisa merasakan nikmatnya surga semu dunia. Penyesalan memang selalu menakutkan tapi jikalau itu kenyataan tentuk tak dapat engkau hindarkan, semua akan terasa percuma bahkan sampai air mata darah kau curahkan, meratapi diri memang bukan jalan terbaik untuk tetap berdiri akan tetapi tempalah dirimu menjadi lebih baik setiap waktu, itulah yang sejatinya harus anda lakukan.

Padahal apa yang kita banggakan dengan gelimang harta dan kehidupan glamor dengan rumah bak singgasana, padahal ketika nyawa melayang hanya selapis kain putih yang membungkusnya. Di mata sang maha kuasa ketakwaan hambanyalah yang utama dan bukan gelimang harta yang tak terhitung jumlahnya.

Di saat sang maha pencipta menegurnya lewat rentetan cobaan pedih, barulah ia tersadar bahwa ia telah salah jalan dan meratapi nasib yang menderanya. Memang benar tidak pernah ada kata terlambat untuk taubat, tapi melihat berbagai kisah kelam di masa lalunya tak berlebihan jika mengibaratkan isak tangis pilunya itu bagai nasi yang telah menjadi bubur. Hingga pada akhirnya terjerembab ke dalam jurang keputusasaan, karena bayang-bayang kehidupan kelamnya itu tidak akan pernah sirna kemanapun dia pergi dan selalu menyertainya, ibaratkan hantu yang selalu menggerogoti pikirannya.

Terlalu naif jika kita sebagai manusia yang mempunyai segudang keterbatasan serta bergelimang dosa tidak mau mengerjakan perintahnya, karena pada hakikatnya manusia ini diciptakan hanya untuk menyembah kepadanya dan bukan untuk menikmati kelamnya nafsu dunia. Mulai sekarang kita harus sadar bahwa dunia ini adalah dunia fana yang hanya sementara dan suatu saat akan binasa, kita hidup di dunia hanya  sekedar menumpang sebentar di tengah perjalanan, untuk mencapai tempat tujuan yang kekal abadi bernama akhirat.

Mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-nya, atau para alim ulama menyebutnya Amar Ma'ruf Nahi mungkar merupakan jalan terbaik bagi manusia agar tidak tersesat dari jalannya. Berbagai doktrin telah tertata rapi dalam kitab suci, tinggal bagaimana kita menelaah dan mencari kebenaran di dalamnya, hingga pada akhirnya kita bisa mengaplikasikannya di dalam setiap sendi kehidupan kita.

Dalam Al-Qur'an pernah dijelaskan yang bahwasanya kita harus seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Keduanya harus saling beriringan satu sama lain dan tidak boleh dilalaikan. Allah memang telah menjamin rezeki setiap insan, tinggal bagaimana kesungguhan kita mencari, berdoa dan bertawakal atas pemberiannya. Karena jika kita bersyukur atas segala karunianya maka niscaya Allah akan menambahnya dan jikalau kita kufur maka azabnya sungguh pedih.

Berbuat baik setiap waktu dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik merupakan kodart manusia pada hakikatnya, yang bertujuan untuk  membentengi diri dari pengaruh negatif lingkungan yang terus bergejolak setiap saat.

Semoga kita tidak menjadi pribadi yang merugi akibat terbuai kelamnya nafsu dunia semu sesaat, yang pada akhirnya membuat kita sengsara selama-lamanya di akhirat. Saya harap informasi singkat saya diatas dapat membuka mata anda, bahwa kita tidak boleh hanya terlena dengan kehidupan dunia yang hanya sesaat akan tetapi juga harus menggingat kehidupan yang kekal abadi yaitu akhirat.


3 Responses to "Terbuai dalam kenikmatan semu sesaat"

  1. na bakat jeut ke penulis kah

    ReplyDelete
  2. Wew bagus gan tulisan nya.. saya suka.. artikel nya sudah "berisi" tapi tolong perparagrafnya jangab terlalu panjang.. mungkin 6-7 baris perparagraf...
    Tapi good lah.. semangat aja gan lanjutkan

    ReplyDelete

Silahkan kritik dan sarannya. jangan titip link saya pasti akan kunjungi balik. yang sudah follow blog ini silahkan komentar di bawah biar saya follback biar gak ketinggalan kalau ada update terbaru..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel