Terpikat dalam rayuan drama Korea


Drama Korea belakangan ini memang menjadi sinema favorit di berbagai negara, tidak hanya di negara-negara Asia bahkan di seluruh dunia. Sekarang ini drama Korea tidak hanya digandrungi oleh para remaja tetapi sudah menjalar ke semua kalangan, baik pria maupun wanita dan tidak mengenal batasan usia.

Hal ini memberi keuntungan tersendiri bagi perekonomian negeri ginseng, lagu yang menjadi soundtrack film akan bertengger di posisi puncak, sang pemain akan menjadi idola yang dipuja-puja jutaan pasang mata, tempat syuting akan menjadi destinasi wisata yang naik daun dan dijamin bakal disambangi banyak turis dari berbagai belahan dunia. Hal ini tentu semakin membuat denyut nadi perekonomian semakin berkembang pesat, karena pendapatan dari sektor pariwisata yang menambah pundi-pundi kas negara.

Misalkan saja film  Descendent Of The sun, The Legend Of The Blue Sea, kedua film ini merupakan drama series yang sukses di berbagai negara dan meraup penghasilan yang begitu besar, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia drama Korea memang mempunyai tempat tersendiri di kalangan pecinta film, terutama di kalangan remaja. Bahkan kepopuleran film Korea mengalahkan film Indonesia buatan anak negeri sendiri.

Sejujurnya saya tidak menyukai film Korea, saya hanya pernah melihat dari kejauhan teman-teman saya yang sedang menonton film Korea, rasa penasaran membuat saya menyambangi mereka dan coba menonton dari kejauhan. Setelah saya coba menonton, saya menyimpulkan yang bahwasanya film Korea memiliki segudang sisi negatif yang ditinjau dari berbagai aspek, kadang kala para aktor maupun aktris memperagakan adegan tak senonoh yang tak sesuai dengan tata krama maupun norma kita sebagai orang Indonesia. Menurut mereka itu hal yang biasa tapi menurut kita orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai norma tentu menjadi sebuah hal yang luar biasa dan tidak lumrah.

Drama Korea merupakan buah pikiran ataupun ide liar sang sutradara, yang menghasilkan sebuah mahakarya yang kadangkala tidak bisa diterima akal dan logika, misalkan saja Film The Legend Of The Blue Sea yang mengisahkan percintaan antara manusia dengan duyung, tentu hal ini tidak dapat diterima akal sehat. Namun lagi-lagi, film ini menuai kesuksesan di berbagai negara. 

Film Korea kebanyakan mengandalkan paras rupawan dari para aktor dan aktris yang mempunyai postur tubuh tinggi semampai dengan kulit putih yang halus bersih tak bernoda untuk menggaet penonton sebanyak-banyaknya. Ditambah cerita romansa dari kedua insan yang membuat siapa saja ikut hanyut di dalamnya, tidak mengherankan banyak orang rela meluangkan waktunya berjam-jam hanya untuk sekedar menonton drama Korea.

Lebih baik kita meluangkan waktu untuk menonton film Indonesia. Menurut saya  film Indonesia tidak kalah bagus dengan film luar negeri, seperti halnya film Korea. Banyak dari film Indonesia yang memberikan edukasi dan inspirasi untuk memaknai arti kehidupan. Tentunya hal ini bisa berdampak positif untuk kehidupan anda, karena filmnya sarat akan makna. Ketimbang film Korea yang hanya dengan cerita yang kurang bisa diterima oleh akal dan logika.

Tapi kalau masalah mempromosikan tempat wisata melalui film, Indonesia memang harus banyak belajar dari sinema Korea. Film Korea memilih lokasi syuting yang mempunyai panorama alam memukau, contohnya seperti pulau Jeju. Tak mengherankan jika pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di negeri ginseng. Jadi alangkah baiknya jika Indonesia juga mempromosikan tempat wisata andalannya lewat film, apalagi Indonesia mempunyai segudang tempat wisata yang keindahannya tiada tara. Tentu hal ini akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Apakah anda sependapat dengan saya? 

1 Response to "Terpikat dalam rayuan drama Korea"

  1. Saya nonton beberapa drama korea. Tapi tetep gabisa gandrung juga. Biasa aja gitu

    ReplyDelete

Silahkan kritik dan sarannya. jangan titip link saya pasti akan kunjungi balik. yang sudah follow blog ini silahkan komentar di bawah biar saya follback biar gak ketinggalan kalau ada update terbaru..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel